Jumat, 30 Mei 2014

Jenis Pahat Bubut



Jenis - Jenis Pahat Bubut

Jenis-Jenis Pahat Bubut
Beragam bentuk benda kerja yang ingin kita buat di mesin bubut menuntut kita untuk mempersiapkan bentuk-bentuk pahat bubut yang umum dipakai. Gambar berikut menjelaskan bentuk pahat bubut dan bentuk benda kerja yang di hasilkan. Bagian pahat yang bertanda bintang adalah pahat kanan,artinya melakukan pemakanan dari kanan ke kiri.

macam-macam bentuk pahat bubut
*gambar dari McMaster-Carr catalogue



Berdasarkan bentuknya,pahat bubut diatas dari kiri ke kanan adalah:
pahat sisi kanan
pahat pinggul/champer kanan
pahat sisi/permukaan kanan
pahat sisi/permukaan kanan(lebih besar)
pahat ulir segitiga kanan
pahat alur
pahat alur segitiga(kanan kiri)
paht ulir segitiga kiri
pahat sisi kiri
pahat pinggul kiri
pahat alur lebar
Berdasarkan bahan pembuatnya, ada dua macam pahat bubut yang umum dipakai,yakni pahat HSS dan carbide/tungsten carbide.

Pahat High Speed Steel (HSS)
Dalam Bahasa Indonesia bisa jadi baja berkecepatan tinggi. Tapi apa sih sebenarnya HSS itu? Menurut Wiki,
High speed steel  (HSS atau HS) adalah bagian dari alat baja, biasanya digunakan alat bit dan alat pemotong. Hal ini sering digunakan dalam kekuasaan gergaji dan bor. Hal ini unggul lebih tua alat baja karbon tinggi yang digunakan secara luas melalui tahun 1940-an karena dapat menahan suhu tinggi tanpa kehilangan kesabaran nya (kekerasan). Properti ini memungkinkan HSS untuk memotong lebih cepat dari baja karbon tinggi, maka nama baja kecepatan tinggi. Pada suhu kamar, dalam pengobatan panas umumnya direkomendasikan mereka, nilai HSS umumnya menampilkan kekerasan tinggi (di atas HRC60) dan ketahanan abrasi tinggi (umumnya terkait dengan konten tungsten sering digunakan dalam HSS) dibandingkan dengan karbon umum dan alat baja.
Penggunaan utama dari baja kecepatan tinggi terus menjadi dalam pembuatan berbagai alat pemotong: latihan, keran, penggilingan pemotong, alat bit, pemotong gear, gergaji, dll, meskipun penggunaan untuk pukulan dan mati meningkat.
Baja kecepatan tinggi juga menemukan sebuah pasar di mana alat-alat baik tangan ketangguhan relatif baik mereka di kekerasan tinggi, ditambah dengan ketahanan abrasi tinggi dan baik-baik saja, membuat mereka cocok untuk aplikasi kecepatan rendah memerlukan tajam (tajam) tepi tahan lama, seperti file, pahat, pisau tangan pesawat, dan dapur berkualitas tinggi, pisau saku, dan pedang.
Jadi HSS bukan hanya digunakan memotong besi,tapi juga kayu , bahkan bagus juga untuk pisau dapur. Selengkapnya bisa dilihat di wikipedia.


Pahat HSS


Pahat Carbide
Menurut Wiki lagi....
 Tungsten karbida (WC) adalah senyawa kimia anorganik yang mengandung bagian yang sama tungsten dan atom karbon. Bahasa sehari-hari, tungsten karbida sering hanya disebut karbida. Dalam bentuk yang paling dasar, itu adalah bubuk abu-abu halus, tetapi dapat ditekan dan dibentuk menjadi bentuk untuk digunakan dalam mesin industri, alat-alat, abrasive, serta perhiasan. Tungsten karbida adalah sekitar tiga kali lebih keras dari baja, dengan modulus Young sekitar 550 GPa, dan jauh lebih padat dari baja atau titanium. Hal ini sebanding dengan korundum (α-Al2O3) atau safir dalam kekerasan dan hanya dapat dipoles dan selesai dengan abrasive kekerasan unggulan seperti silikon karbida, cubic boron nitride dan berlian antara lain, dalam bentuk bubuk, roda, dan senyawa.
Jadi Jenis pahat ini dibuat dengan campuran bahan kimia antara lain tungsten dan karbon,tergantung sifat bahan yang dikehendaki. Kadang juga memakai methanol,hydrofluoric acid/nitric acid (HF/HNO3),dll. Rumit sangat....... :D
Bisa juga lihat cara membuatnya disini.
Tungsten carbide bit ini kemudian dicetak dengan beragam bentuk pahat bubut. Ada yang dibuat dengan lubang di tengahnya untuk baut pengunci ke holder/pegangannya,sepert gambar di bawah ini.


pahat tungsten carbide dan holdernya

dijual juga di indonetwork

Namun yang banyak dan gampang dijumpai dipasaran disini adalah yang tidak memakai holder sehingga dalam aplikasinya kita mengelas bit ini ke tangkainya dengan kawat kuningan.



pahat carbide yang dilas dgn gagang


Pengukuran Roda Gigi





PENGUKURAN RODA GIGI
Kita telah mengenal apa yang dinamakan roda gigi.pada sepeda,
kendaraan roda dua, mobil, kereta api, pesawat udara, kapal laut, dan
semua jenis mesin-mesin perkakas selalu dilengkapi dengan komponenkomponen roda gigi. Dengan adanya komponen-komponen roda gigi ini
maka sistem mekanisme mesin dan motor dapat bekerja sesuai dengan
fungsinya. Makin tinggi kualitas suatu produk yang memerlukan
perlengkapan roda gigi, maka makin tinggi dan makin presisi pula roda
gigi yang harus dibuat.
Untuk dapat membuat roda gigi dari kualitas rendah sampai pada
roda gigi yang berkualitas tinggi sudah tentu tidak bisa lepas dari salah
satu faktor dalam proses pembuatannya yaitu proses pengukuran. Dalam
kaitan ini akan disinggung alat ukur roda gigi, bagian-bagian roda gigi
yang perlu diukur dan bagaimana cara mengukurnya.
A. Jenis dan Fungsi Roda Gigi
Pada umumnya bentuk gigi roda gigi yang banyak diproduksi dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu bentuk  involute dan bentuk
cycloidal. Yang paling banyak diproduksi adalah bentuk involute karena
lebih cocok untuk keperluan produk-produk permesinan secara umum
yang memerlukan ketelitian-ketelitian tertentu. Sedangkan untuk
keperluan mesin-mesin dengan beban berat dan pekerjaan kasar
biasanya digunakan roda gigi dengan bentuk cycloidal.
Dalam bidang permesinan, jenis roda gigi adalah bermacammacam. Ada yang membedakan roda gigi dari bentuk giginya dan ada
pula yang membedakannya menurut posisi dari poros untuk masingmasing roda gigi pada suatu pasangan roda gigi. Akan tetapi, dari dua
cara membedakan itu pada dasarnya jenis roda gigi yang dibedakan
adalah sama.
1. Jenis Roda Gigi Menurut Bentuk Gigi
Berdasarkan dari bentuk giginya maka roda gigi dapat dibedakan :
1.1. Roda gigi lurus (spur gear)
Pada jenis roda gigi ini, pemotongan gigi-giginya adalah searah
dengan porosnya. Ada pula jenis gigi lurus lainnya tetapi badan gigi tidak
berbentuk lingkaran melainkan berbentuk batang segi empat panjang.
Pada permukaan memanjang inilah pemotongan gigi-giginya dilakukan
yang arahnya kadang-kadang tegak lurus dan kadang-kadang DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
180
membentuk sudut terhadap batang gigi (badan gigi). Bentuk gigi yang
demikian ini biasa disebut dengan Gigi Rack.
1.2. Roda gigi helix (helical gear)
Jenis roda gigi ini pemotongan gigi-giginya tidak lurus tetapi sedikit
membentuk sudut di sepanjang badan gigi yang berbentuk silinder. Bila
dilihat arah alur giginya nampak bahwa alur tersebut membengkok.
1.3. Roda gigi payung (straight bevel gear)
Pada jenis roda gigi ini pemotongan gigi-giginya adalah pada
bagian yang konis. Pada permukaan yang konis ini gigi-gigi dibentuk
yang arahnya lurus dan searah dengan poros roda gigi.
1.4. Roda gigi spiral (spiral gear)
Gigi-gigi roda gigi spiral arahnya membentuk suatu kurve. Biasanya
pemotongan gigi-giginya juga pada permukaan yang konis.
1.5. Roda gigi cacing (worm gear)
Jenis roda gigi ini biasanya merupakan satu pasangan yang terdiri
dari batang berulir cacing dan roda gigi cacing. Pada batang ulir cacing
bentuk giginya seperti ulir. Dan pada roda gigi cacing bentuk giginya
hampir sama dengan roda gigi helix, akan tetapi permukaan giginya
membentuk lengkungan ke dalam.
1.6. Roda gigi dalam (internal gear)
Pada jenis roda gigi ini pemotongan gigi-giginya adalah pada
bagian dalam dari permukaan ring/lubang. Biasanya bentuk giginya
adalah lurus seperti roda gigi lurus (spur gear).
2. Jenis Roda Gigi Menurut Posisi Poros Pasangan Roda Gigi
Cara membedakan roda gigi yang kedua ini adalah dengan melihat
posisi dari masing-masing roda gigi untuk pasangan roda gigi. Jenis roda
gigi tersebut antara lain adalah :
2.1. Roda gigi yang masing-masing porosnya satu sama lain posisinya
sejajar sewaktu roda-roda gigi tersebut dipasangkan. Contohnya adalah
roda gigi lurus (spur gear) dan roda gigi helix (helical gear).
2.2. Roda gigi yang masing-masing porosnya mempunyai posisi saling
menyiku satu sama lain. Contoh nya adalah roda gigi payung dan roda
gigi spiral. Menyiku di sini artinya poros roda gigi yang satu posisinya
tegak lurus terhadap poros roda gigi yang lain.
2.3. Ada pula pasangan roda gigi yang poros-porosnya satu sama lain
posisi tegak lurus, akan tetapi poros yang satu berada di atas poros yang DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
181
lian dengan posisi menyilang. Roda gigi yang termasuk dalam jenis ini
adalah roda gigi cacing, juga roda gigi helix.
3. Fungsi Roda Gigi
Secara umum fungsi dari roda gigi adalah untuk :
a. Meneruskan daya dari poros penggerak ke poros yang
digerakkan.
b. Mengubah putaran dari poros penggerak ke poros yang
digerakkan, yaitu dari putaran tinggi ke putaran rendah atau dari
putaran rendah ke putaran tinggi. Bisa juga mengubah putaran di
sini berarti membuat arah putaran poros yang digerakkan
berlawanan dengan arah putaran poros penggerak.
c. Memindahkan zat cair dari satu tempat ke tempat lain, misalnya
oli, minyak tanah, dan sebagainya. Jadi, fungsi roda gigi di sini
adalah sebagai pompa zat cair. Dalam otomotof dikenal adanya
sistem pelumas dengan roda gigi.
B. Beberapa istilah penting dalam Roda Gigi
Untuk mengetahui elemen-elemen yang penting dalam roda gigi
dapat dilihat Gambar 5.1 di bawah ini.
Gambar 5.1. Elemen-elemen roda gigi lurus (spur gear).
1.  Diametral pitch (P) adalah banyaknya gigi untuk tiap satu inchi dari
diameter lingkaran pitch. Diametral pitch ini hanya merupakan harga
secara hipotesis saja yang harganya tidak bisa diukur. Akan tetapi
pengertiannya sangat penting untuk mempertimbangkan proporsi
jumlah gigi.
D
N
P    N = jumlah gigi
    D = diameter lingkaran pitch
2.  Modul (m) adalah panjang dari diameter lingkaran  pitch untuk tiap
gigi. Satuan untuk modul adalah milimeter. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
182
P
1
N
D
m 
3.  Circular Pitch (CP) adalah jarak arc yang diukur pada lingkaran pitch
dari salah satu sisi sebuah gigi ke sisi yang sama dari gigi yang
berikutnya.





PN
D
CP Modul (m)
4.  Addendum (Add) adalah jarak radial dari lingkaran pitch sampai pada
ujung puncak dari gigi.
Addendum =
P
1
= Modul
5. Kelonggaran (Clearance) adalah jarak radial dari ujung puncak
sebuah gigi roda gigi yang satu ke bagian dasar dari gigi roda gigi
yang lain untuk suatu pasangan roda gigi. Harga-harga standar dari
clearance ini adalah :
m400.0
P
400.0
atau,m250.0
P
250.0
atau,m157.0
P
157.0

6.  Deddendum (Dedd) adalah jarak radial dari lingkaran  pitch sampai
pada dasar dari gigi.
Deddendum  = Addendum + Clearance
atau,m157.1
P
157.0
P
1

atau,m250.1
P
250.0
P
1

m400.1
P
400.0
P
1

7. Diameter blank (blank diameter) adalah jarak yang panjangnya sama
dengan diameter lingkaran pitch ditambar dengan dua addendum.
Blank diameter = D + 2 Addendum
                   D    = Nm
       Add   = m
Blank diameter  = Nm + 2m = (N + 2) m =
 
P
 2N
8. Ketebalan gigi adalah jarak tebal gigi yang diukur pada lingkaran pitch
dari satu sisi ke sisi yang lain pada gigi yang sama. Pengukuran tebal
gigi ini bermacam-macam caranya yang akan dibicarakan tersendiri DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
183
pada pengukuran tebal dalam Bab V ini juga. Secara nominal dapat
ditentukan tebal gigi sebagai berikut :
Tebal gigi nominal = ½ Circular Pitch (CP)
=
2
m
x
DP2


9.  Back Lash. Menurut arti katanya kira-kira gerak terlambat. Untuk
istilah  back lash pada roda gigi pengertiannya adalah jarak dari sisi
ujung gigi yang satu sampai pada sisi kerja (working flank) dari gigi
yang lain pada satu pasangan roda gigi.
Untuk sudut tekan (pressure angle) biasanya dibuat sama dengan
20° dan 14½°. Sedangkan tinggi gigi atau kedalaman gigi (teeth depth)
umumnya dibuat 2.25 kali modul untuk roda gigi dengan sudut tekan 20°.
Sedangkan untuk roda gigi dengan sudut tekan 14½° kedalaman giginya
dibuat sama dengan 2.157 modul (m).
Untuk jarak antara pusat kedua roda gigi dari pasangan roda gigi
dapat dihitung bila jumlah gigi dari kedua roda gigi dan diametral pitchnya
sudah diketahui. Dengan demikian perhitungan jarak antara pusat roda
gigi dapat ditentukan dengan :
xP2
 NN 21
Dimana: N1  = jumlah gigi roda gigi penggerak
N2 = jumlah roda gigi yang digerakkan
P = diametral pitch =
D
N
D  = diameter lingkaran pitch
Dari gambar 5.1 juga bisa dijelaskan tentang hubungan antara
diameter lingkaran dasar dengan diameter lingkaran  pitch dan sudut
tekan roda gigi.
Segitiga ABC,
p
b
R
R
AC
AB
cos 
Rb = Rp cos 
Db = D cos
Dimana:
Db = diameter lingkaran dasar
D = diameter lingkaran pitch
 = sudut tekan, (20
0
 atau 14½
0
)
C. Bagian-bagian Penting Roda Gigi Yang Perlu Diukur
Bagian-bagian dari roda gigi yang perlu diukur antara lain adalah : DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
184
1. Ukuran dasar roda gigi yang menyangkut diameter mayor (luar),
diameter lubang, ketidaksepusatan diameter luar terhadap lubang,
lebar gigi (face width) dan goyangan aksial dari masing-masing
muka gigi.
2. Posisi gigi yang menyangkut: jarak puncak ke puncak dari gigi
(pitch), jarak celah, tebal gigi, eksentrisitas masing-masing gigi
terhadap sumbu putarnya.
3. Bentuk gigi yang menyangkut pemeriksaan kebenaran bentuk
gigi, kesimetrisan antara dua muka gigi dan ketinggian atau
kedalaman gigi (teeth depth).
4. Pasangan roda gigi yang menyangkut: jarak pusat dari roda gigi
yang satu ke pusat roda gigi yang lain,  back lash dan
pemeriksaan roda gigi dengan memutarnya pada waktu
dipasangkan dengan roda gigi standar.
Sebetulnya, untuk pengukuran roda gigi tidak semua yang
disebutkan di atas harus diukur semuanya, kecuali untuk keperluan
pemakaian roda gigi dengan ketelitian tertentu sesuai dengan tujuan
yang dikehendaki.
Secara umum, pemeriksaan roda gigi dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu pemeriksaan secara analisis dan pemeriksaan menurut
fungsinya. Pemeriksaan secara analisis (analitical inspection) maksudnya
adalah memeriksa semua elemen-elemen penting dari roda gigi,
misalnya bentuk gigi, jarak puncak antar gigi (pitch), jarak celah
(clearance), eksentrisitas, tebal gigi, lead dan  back lash. Sedangkan
pemeriksaan menurut fungsinya (functional inspection) adalah
pemeriksaan roda gigi yang dibandingkan dengan roda gigi standar
(master gear) yang caranya adalah memasang roda gigi yang akan
diperiksa pada roda gigi standar dan kemudian memutar pasangan roda
gigi tersebut. Dengan beberapa peralatan maka dapat dilihat/diperiksa
tingkat kebisingan suara yang timbul akibat gesekan antar roda gigi,
getaran dan variasi gerakan dari putaran roda gigi.
D. Beberapa Cara Pengukuran Roda Gigi
Seperti halnya pada pemeriksaan ulir, maka pada pemeriksaan
roda gigi pun diperlukan perhitungan-perhitungan tertentu terutama
perhitungan dengan trigonometri. Yang telah disinggung di muka
sebagian besar mengenai roda gigi lurus (spur gear). Sedangkan untuk
perhitungan-perhitungan roda gigi helix dan roda gigi payung dapat dilihat
pada  lampiran 8. Pada dasarnya pemeriksaan untuk semua jenis roda
gigi adalah sama yaitu lebih menitik beratkan pada pemeriksaan bentuk
fisik dari roda gigi dan bentuk dari giginya, baru kemudian
dijabarkan/dikembangkan pada pemeriksaan elemen-elemen yang lain. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
185
Sebagaimana telah dikemukakan di muka bahwa pemeriksaan roda
gigi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pemeriksaan roda gigi
secara keseluruhan dalam arti membandingkannya dengan roda gigi
standar dan pemeriksaan elemen-elemen roda gigi secara sendiri-sendiri.
Pemeriksaan roda gigi dengan membandingkannya terhadap roda gigi
standar disebut juga dengan istilah pemeriksaan secara keseluruhan
(general test). Sedangkan pemeriksaan elemen-elemen dari roda gigi
disebut juga dengan istilah pemeriksaan individual (individual test).
1. Membandingkan Roda Gigi dengan Roda Gigi Standar (General
Test)
Salah satu alat yang biasa digunakan untuk memeriksa roda gigi
secara keseluruhan ini (membandingkannya dengan roda gigi standar)
adalah  Parkson Gear Tester. Bagan sederhana dari konstruksi alat
pemeriksa roda gigi ini dapat dilihat pada Gambar 5.2.
Gambar 5.2. Membandingkan roda gigi dengan roda gigi standar
(gear master)
Alat tersebut terdiri dari meja, pemegang tetap roda gigi standar,
pemegang roda gigi yang bisa diatur posisinya, roda gigi standar, jam
ukur dan pengaturnya, kunci penyetel posisi roda gigi dan skala vernier
pengatur jarak pusat roda gigi. Bila sebuah roda gigi yang akan diperiksa
sudah dipasangkan dengan posisi yang tepat terhadap roda gigi standar
maka setiap penyimpangan roda gigi akan terlihat pada waktu
pemasangan roda gigi tersebut diputar. Penyimpangan ini bisa dilihat
pada jam ukur dimana setiap perubahan jarak dari posisi roda gigi yang
diperiksa akan ditunjukkan oleh jarum penunjuk jam ukur. Perubahan ini
timbul akibat adanya penyimpangan-penyimpangan pada roda gigi yang
diperiksa, antara lain misalnya kesalahan bentuk gigi, kesalahan jarak
puncak gigi (pitch), konsentrisitas pitch dan sebagainya. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
186
Secara ringkas, prosedur pemeriksaannya dapat dilakukan sebagai
berikut: Gunakan blok ukur di antara masing-masing spindel untuk
menyetel posisi nol jam ukur pada jarak pusat yang tepat antara pusat
roda gigi standar dan roda gigi yang diperiksa. Panjang blok ukur adalah
jarak pusat (L) dikurang setengah dari jumlah diameter masing-masing
spindel (d1 dan d2), jadi ukuran blok ukur
2
dd
L
 21
 . Setelah itu
menyetel harga-harga batas pada jam ukur. Pasangan roda gigi
kemudian diputar dan catatlah semua perubahan yang ditunjukkan oleh
jarum penunjuk jam ukur. Bila jarum penunjuk menunjukkan harga di luar
harga-harga batas yang sudah ditentukan maka kesimpulannya adalah
roda gigi tidak bisa dipakai. Dengan menggunakan alat pengukur
kekasaran permukaan maka setiap penyimpangan yang terjadi bisa
direkam yang dengan perbesaran tertentu penyimpangan tersebut
tergambar pada kertas skala dari alat pengukur yang digunakan.
2. Pengukuran Elemen Roda Gigi Secara Individual (Individual
Test)
Dalam pemeriksaan elemen-elemen roda gigi secara individual ini,
titik berat pemeriksaan biasanya terletak pada pemeriksaan diameter
pitchnya. Dengan pemeriksaan diameter pitch ini secara tidak langsung
juga akan memeriksa diameter luar, diameter dasar, jarak puncak antar
gigi, tebal gigi, eksentrisitas dan tinggi gigi.
2.1. Pemeriksaan Eksentristas Roda Gigi
Untuk pemeriksaan eksentrisitas ini, alat ukur sederhana yang bisa
digunakan antara lain adalah jam ukur, kawat dan blok V. Dengan alat
sederhana ini dapat diketahui ketidakseimbangan (eksentrisitas) dari roda
gigi yang penyimpangannya dapat diketahui dari jarum penunjuk jam
ukur. Setiap kali diputar dicatat penyimpangannya sampai semua daerah
lingkaran  pitch selesai diperiksa. Secara sederhana gambarnya dapat
dilihat Gambar 5.9. Bila tujuan pemeriksaan hanya ingin mengetahui
apakah roda gigi seimbang (balance) atau tidak caranya adalah cukup
dengan memutarnya secara perlahan-lahan lalu dibiarkan berhenti
sendiri. Dalam keadaan akan berhenti sendiri dapat dilihat atau diamati
bagian mana dari roda gigi yang menyebabkan tidak seimbang. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
187
Gambar 5.3. Pemeriksaan eksentrisitas roda gigi.
2.2. Pemeriksaan Roda Gigi dengan Rol Baja
Untuk pemeriksaan roda gigi dengan menggunakan rol baja maka
yang harus diperhatikan adalah pemilihan diameter dari rol baja. Hal ini
dimaksudkan agar posisi dari rol baja betul-betul tepat pada titik dari
lingkaran pitch roda gigi. Analisis selanjutnya dapat dilihat gambar 5.3.
Lihat segitiga ABC,  adalah sudut tekan roda gigi.
AC
AB
Cos   AB = AC cos 
AB adalah sama dengan jari-jari dari rol baja (r).
Gambar 5.4. Pengukuran roda gigi dengan rol baja.
Jarak luar dari rol baja (M) = 2 x Rg
Rg = Rp + r  Rp = jari-jari lingkaran pitch
Rp =
2
Nm
  N = jumlah gigi
Jadi, M =  





 cosα
4
πm
2
Nm
2
      M = m  





 cosα
2
π
N
Rumus di atas berlaku untuk roda gigi dengan jumlah gigi genap.
Sedangkan untuk roda gigi dengan jumlah gigi ganjil rumusnya adalah :
lihat gambar 5.5 berikut ini.
Jarak luar rol baja adalah 2 AB + d (diameter rol)
2AB = diameter lingkaran pitch (D pitch) kali
Diameter rol baja adalah 2 x AB
= 2 AC cos   AC =
4
1
dari
circular pitch =
4
1
 CP =
4
m
2AC cos   =
2
m
cos   . Jadi,
diameter rol baja adalah
2
m
cos  . M = modul. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
188
N
90
cos
0
, karena AB = AC cos.
Gambar 5.5 Pengukuran roda gigi dengan jumlah gigi ganjil.
Seandainya diameter lingkaran pitchnya cukup besar maka
pemeriksaan roda gigi bisa dilakukan pada sejumlah gigi bisa dilakukan
pada sejumlah gigi saja. Perhatikan gambar 5.5 dibawah ini. Misalnya
diambil 15 gigi.
Gambar 5.6.Pemeriksaan roda gigi yang besar.
2.3. Pemeriksaan Tebal Gigi
Untuk pengukuran tebal gigi, juga tinggi gigi, alat ukur yang
digunakan adalah mistar ingsut roda gigi (gear tooth vervier). Ada
beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memeriksa tebal gigi, antara
Padalah sudut  besarnya adalah :
N
90
N4
360
00

Jarak luar rol baja (M) =
D pitch Cos  

 cos
2
m
N
90
0
M = Nm Cos  

 cos
2
m
N
90
0
    = m






 cos
2
m
N
90
cosN
0
Jarak luar rol baja = 2 BC + d
Sudut BAC = ½ kali sudut DAC



















cos
2
2700
sin
cos
2
2700
sin
2
2
cos
2
2
2700
sin
2700
360
15
2/1
0
0
0
0
N
Nm
m
N
D
M
m
d
D
AC
N
ACBC
N
n
xDASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
189
lain yaitu: pengukuran tebal gigi pada garis pitch, pengukuran tebal gigi
pada  Constant Chord (sudut tekan) dan pengukuran tebal gigi dengan
Metode Base Tangent (Base Tangent Method).
2.3.1. Pengukuran Tebal Gigi Pada Garis Pitch
Gambar 5.7 Pengukuran tebal gigi pada garis pitch
Dari gambar 5.7 juga diperoleh hubungan antara tinggi (h) dengan
jumlah gigi dan modul. Persamaannya adalah sebagai berikut:
Tinggi (h) = EF – FB
Padahal panjang EF adalah jari-jari lingkaran pitch ditambah
dengan Addendum. Jadi, EF =  Addendum
2
D

EF =  m
2
Nm

FB = FA cos 
2
Nm
2
D
FA 





 

N
Nm
FB
90
cos
2
Sekarang tinggi (h) =  




 

N
Nm
m
Nm 90
cos
22
         h =









N
90
cos
N
2
1
2
Nm
0
 
Lihat gambar 5.13 di samping
Panjang W = 2 AB
Pada segitiga ABF, AF adalah jari-jari
lingkaran pitch =
2
D
 D = Nm
2
Nm
2
D

Sudut
N N




90
4
360

AF
AB
Sin   AB = AFsin
N
NmABW
N
Mn
AB




90
sin2
90
sin
2DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
190
2.3.2. Pengukuran Tebal Gigi Pada Sudut Tekan (Constant Chord)
Pada pemeriksaan tebal gigi berdasarkan garis pitch ternyata harga
h dan W tergantung pada jumlah gigi. Kalau roda gigi yang akan
diperiksa mempunyai dimensi yang cukup besar dan masing-masing gigi
ternyata mempunyai harga yang berbeda maka perhitungan untuk
masing-masing gigi harus dilakukan. Hal ini tentunya memakan waktu
cukup lama. Untuk itu bisa juga dilakukan pemeriksaan tebal gigi yang
tidak tergantung pada jumlah gigi. Pemeriksaan ini dilakukan pada sudut
tekan roda gigi (constant chord). Gambar 5.7. berikut ini menunjukkan
cara menghitung pemeriksaan tebal gigi pada contant chord. Dari gambar
itu diketahui: BD adalah seperempat lingkaran pitch, jadi
4
CP
BD  , atau
4
m
BD

 .
Gambar 5.8. Pengukuran tebal gigi pada sudut tekan (constant chord).
Pada segitiga ABD,
BD
AB
Cos   AB = BD cos
      AB =  

cos
4
m
Pada segitiga ABC,
AB
AC
Cos   AC = AB cos
      AC =  

cos 2
4
m
Dengan demikian harga W = 2 AC
     

 cos2
2
mDASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
191
AB
BC
Sin   BC = AB sin = 

sincos
4
m
\2
Tinggi (h) = Addendum – BC
  = modul (m) -  sincos 
4
m
Persamaan di atas berlaku untuk roda gigi lurus (spur gear). Sedangkan
untuk pengukuran roda gigi helix tinggal mengganti dengan modul normal
(mn)  dan sudut tekan normal. (Lihat pembahasan pada pemeriksaan
roda gigi helix). Jadi,
Harga W normal (Wn) =  
 n 2
cos
2
m
Dan harga tinggi (h normal),
sincos 
4
m
mh
n
nn
Bila diperlukan koreksi maka persamaannya menjadi :
 








nn 2
n
cosntan
2
km4
2
m
W
dan     








nn 2
nn
cosntan
4
km4
4
m
mk1h
k = faktor koreksi yang harganya tergantung pada tipe gigi. Harga k dapat
dihitung dengan k = m + 0.1D, dimana m = modul dan D = diameter
lingkaran pitch.
Alat ukur yang tepat untuk pengukuran tebal gigi pada  constant
chord ini adalah Sykes Gear Tooth Comparator. Alat ini lebih teliti dari
pada mistar ingsut roda gigi. Kelemahan dari mistar ingsut roda gigi antar
lain adalah :
1. Tingkat ketelitiannya tidak bisa lebih dari pada 0.05 mm ataupun
0.025 mm.
2. Pada sistem pembacaannya terdapat dua macam pembacaan yang
masing-masing merupakan funsi satu sama lain yaitu pembacaan
kedalaman dan ketebalan gigi.
3. Pengukurannya hanya pada ujung dari rahang ukur sehingga tidak
bisa tepat pada bagian gigi yang berbentuk rack.
2.3.3. Pengukuran Tebal Gigi dengan Sistem Base Tangent
Alat ukur yang bisa digunakan untuk pemeriksaan tebal gigi dengan
Sistem Base Tangent (Base Tangent Method) adalah mistar ingsut biasa DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
192
meskipun ada beberapa kelemahan dalam proses pengukurannya. Ciri
utama dari pengukuran sistem tersebut adalah bahwa pengambilan gigi
yang akan diperiksa jumlahnya harus lebih dari pada satu gigi, misalnya
2, 3, atau 4 gigi. Secara sederhana cara pengukurannya dapat dilihat
pada Gambar 5.9. Dengan cara ini maka beberapa kelemahan dari mistar
ingsut roda gigi seperti yang disebutkan di muka dapat diatasi yaitu
dengan jalan menggunakan alat ukur yang lebih teliti dari pada mistar
ingsut biasa.
Gambar 5.9. Pengukuran tebal gigi dengan Sistem Base Tangent yang
menggunakan mistar ingsut biasa.
Dari gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
W = AC = A1C1 = A2C2 = arc AoBo
W = arc AB + arc BC
AB adalah tebal gigi pada lingkaran dasar, sedangkan arc BC
adalah jumlah celah (S) antara gigi-gigi yang diambil dalam pemeriksaan
dikalikan dengan  pitch dari lingkaran dasar. Bila N adalah jumlah gigi
maka sudut pitch (angular pitch) P adalah :
4
2
P

 radian, dan pitch dasar (base pitch)
Pb adalah :
xRbb
N
2
P


Rb adalah jari-jari lingkaran dasar yang besarnya :
cos
2
Nm
Rb
Jadi,  cos
2
Nm
x
N
2
PbDASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
193
Karena jumlah gigi yang diperiksa lebih dari pada satu maka jumlah celah
antara gigi-gigi (S) harus dipertimbangkan dalam perhitungan dalam
perhitungan.
Dengan demikian maka :
cos
2
2 Nm
xSx
N
arcBC 
Untuk menentukan besarnya arc AB dapat dijelaskan dengan
Gambar 5.9. berikut ini :
Gambar 5.10. Cara menentukan besar arc AB
arc EF adalah seperempat dari circular pitch (CP).
 =  radian
N2Nm
2
x
4
m
Rp
1
x
4
m 




Arc CD = Rb x
Arc CD =
N2
xcos
2
Nm 

Padahal   arc AB = 2(arc AC + arc CD)
  arc AB =   
 





 

N2
cos
2
Nm
tancos
2
Nm
2
    




 

N2
tancosNm
Telah ditentukan bahwa W = arc AB + arc BC, maka :
 




 
 




 
 cos
2
Nm
N
S2
N2
tancosNmW





 



N
S
N2
tancosNmW
 adalah sudut tekan.
Arc AB = 2 arc AD
 = 2 (arc AC + arc CD)
Arc
Rb
AC
=Inv radian
Arc AC =  btanR  
Arc AC =    tancos  
2
Nm
 radian =
Rbp
arcCD
R
arcEF
DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
194
Untuk roda gigi helix yang pengukurannya pada bidang normal,
maka :





 



N
S
N2
tanncosNmWn nnn
Mn  = modul pada bidang normal = mt cos  .
 n  = sudut tekan pada bidang normal yang bisa dicari dari
tan n = tan t
 cos 
 = sudut helix
Seandainya kelonggaran dari back lash harus diperhitungkan maka harga
W menjadi :





 



N
S
N2
tancosNmW nnnn -
 bcos nkmn.2sin n
 b  = kelonggaran back lash,  Wb = - b cos  n
k  = faktor koreksi addendum.
mW
1
 c
= perubahan harga W karena adanya koreksi addendum.
Wc =  km.2sin n
Pengukuran tebal gigi dengan Sistem Base Tangent akan lebih teliti
lagi hasilnya bila menggunakan mikrometer dengan sudut anvil. Salah
satu peralatan tersebut namanya adalah David  Brown Tangent
Comparator seperti tampak pada Gambar 5.11. di bawah ini:
Gambar 5.11. David Brown Base Tangent Comparator.
2.4. Pemeriksaan Jarak Gigi (Pitch)
Salah satu cara yang paling sederhana untuk memeriksa jarak dari
gigi ke gigi ini adalah dengan menggunakan dua buah jam ukur (dial
gauge) seperti tampak pada gambar 5.12. berikut ini: DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
195
Gambar 5.12 Pemeriksaan kesalahan pitch dari gigi ke gigi
2.5. Pemeriksaan Bentuk Involute Gigi
Dengan menggunakan jam ukur (dial indicator gauge) kita dapat
dengan mudah mengetahui apakah bentuk suatu permukaan benda ukur
itu rata, atau bergelombang, atau melengkung dan sebagainya. Demikian
juga halnya dengan bentuk involute dari gigi. Kebenaran dari bentuk
involute gigi ini bisa diketahui dengan menggunakan jam ukur yang
sensornya kita jalankan pada sisi lengkung dari bentuk involute gigi
tersebut. Dengan demikian setiap perubahan dari bentuk involute gigi
dapat dibaca pada piringan skala jam ukur. Secara sederhana prinsip dari
pemeriksaan bentuk involute gigi ini dapat dilihat pada gambar 5.13.
Gambar 5.13 Prinsip pemeriksaan bentuk involute.
Dari gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, Pelat siku
yang panjang dan lurus (straight edge) digerakkan melalui lingkaran
dasar (base circle). Dengan bergeraknya pelat lurus ini maka batang ukur
Jam ukur A digunakan  untuk
pembacaan tetap dari pitch roda
gigi. Sedangkan jam ukur B
digunakan untuk mencatat setiap
perubahan dari pitch gigi yang
diperiksa. Kesalahan yang
sesungguhnya dari pitch tiap gigi
dapat ditentukan dengan jalan
mengurangi setiap hasil
pengukuran yang terbaca pada jam
ukur B untuk setiap gigi dengan
harga rata-rata dari seluruh hasil
pembacaan pada semua gigi. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
196
dari jam ukur juga akan bergerak sepanjang sisi gigi yang diperiksa mulai
dari batas lingkaran dasar. Sebelum digerakkan jarum penunjuk harus
dipastikan pada posisi yang tetap misalnya tepat pada posisi nol.
Perubahan jarak yang dialami oleh poros ukur (sensor) akan
mengakibatkan perubahan posisi dari jarum penunjuk. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa apabila jarum penunjuk tetap pada posisi yang
sama selama poros ukur dari jam ukur melewati sisi involute gigi maka
dapat dikatakan bahwa gigi mempunyai bentuk involute yang tepat dan
benar.
Demikian pula sebaliknya, apabila posisi jarum penunjuk berubah
dari posisi semula selama sensor melewati sisi gigi maka dikatakan
bahwa gigi mempunyai bentuk involute yang kurang baik. Untuk
memastikan apakah roda gigi bisa dipakai bila ditinjau dari bentuk
involutenya maka dasar pengambilan keputusan adalah dengan melihat
harga-harga batas dari skala jam ukur dengan harga yang sudah
ditentukan. Artinya, bila jarum penunjuk menunjukkan harga di luar harga
batas maka disimpulkan bahwa roda gigi tidak bisa digunakan.
Salah satu peralatan untuk memeriksa bentuk involute gigi yang
menggunakan prinsip seperti tersebut di atas adalah  David Brown
Involute Form Tester, diagramnya dapat dilihat pada gambar 5.14.
Gambar 5.14. Pemeriksaan involute gigi dengan  David Brown Involute
Tester
2.6. Pemeriksaan Kelonggaran Back Lash
Untuk memeriksa besarnya kelonggaran dari  back lash harus
digunakan roda gigi standar sebagai masternya dan jam ukur sebagai DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
197
alat ukur yang mencatat besarnya  back lash. Secara sederhana cara
pengukurannya dapat dilihat gambar 5.14. berikut ini.
Gambar 5.14. Pemeriksaan back lash.
Roda gigi standar (master gear) dikunci agar tidak berputar. Roda
gigi yang akan diperiksa dipasangkan pada roda gigi standar tersebut.
Ujung poros ukur dari jam ukur diletakkan pada salah satu sisi dari roda
gigi yang diperiksa. Kemudian roda gigi yang diperiksa digerakkan
dengan arah bolak-balik seperti yang ditunjukkan oleh tanda panah ‘ a ‘.
Dengan gerakan ini maka jarum penunjuk jam ukur akan mencatat
semua perubahan jarak yang dialami oleh poros ukurnya. Gerakan bolakbalik di atas jaraknya adalah sepanjang kelonggaran dari  back lash.
Bentuk dari  back lash digambarkan agak berlebihan (ekstrim) seperti
yang ditunjukkan oleh ‘ b ‘. Untuk roda gigi yang presisi maka besarnya
kelonggaran dari  back lash tidak boleh lebih dari 0.02 sampai 0.03
milimeter. Untuk mengambil keputusan apakah besarnya  back lash
sudah melampaui batas harga maksimum dan minimumnya adalah
dengan melihat posisi jarum penunjuk jam ukur. Apabila posisi jarum
penunjuk menunjukkan harga di luar harga-harga batas dari  back lash
maka dari sudut kelonggaran back lash berarti roda gigi tidak baik untuk
digunakan.
3. Perhitungan Untuk Roda Gigi Helix (Helical Gear)
Untuk analisis pengukuran roda gigi helix dengan beberapa
perhitungan maka pengukurannya dapat dilakukan berdasarkan tiga
bidang yaitu :
a. Bidang normal terhadap sisi gigi yang ditunjukkan oleh tanda ‘ n ‘
dalam perhitungannya.
b. Bidang normal terhadap sumbu putar yang biasa disebut dengan
bidang transversal (menyilang) dan diberi simbol ‘ t ’.  DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
198
c. Bidang paralel dengan sumbu putar yang biasa disebut dengan
bidang aksial dan diberi tanda ‘ a ‘.
Dalam praktek sehari-hari lebih diutamakan untuk pengukuran
berdasarkan bidang transversal dan normal. Gambar 5.15. menunjukkan
bagan dari bidang transversal dan bidang normal untuk pengukuran roda
gigi helix. Dari gambar tersebut :
    adalah sudut helix
n adalah sudut tekan transversal.
        CP  Mtt adalah circular pitch dari arah transversal.
Gambar 5.16. Beberapa istilah untuk pengukuran roda gigi helix. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
199
DF
DE
Cos 
DE   = DFCos
CPn  = CPt Cos
Padahal circular pitch (CP) adalah  x modul (m), maka:
mn = mt Cos   mn = mt Cos
Sudut sisi dari rack adalah sudut tekan dari sistem tersebut. Dari gambar
diperoleh :
AC
AB
tan n 
AC adalah konstan (tetap) yang besarnya adalah sama dengan
dalamnya gigi. Akan tetapi, besarnya AB adalah :
AB = A1B1 cos t
Jadi,  t
AC
BA
n 
cos
tan
11

dan
AC
BA
ttan
11

Dengan demikian maka :
tan  tan tn cos
Pitch untuk bidang normal (Pbn) adalah :
P   cos nmnbn
E. Beberapa Contoh Perhitungan Roda Gigi
1. Hitunglah jarak luar dari rol baja yang digunakan untuk memeriksa
roda gigi yang jumlah giginya 31, modulnya 2.5 dan sudut tekannya 20
0
.
Penyelesaian : Lihat Gambar 5.16.
Diameter rol yang terbaik adalah /2. m. Cos
Jadi, besarnya diameter rol adalah :
d rol  =  x 2.5 x cos 20
0DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
200
 = 3.69 mm.
Gambar 5.17.
2. Sebuah roda gigi dengan jumlah gigi 40, modul 5, diukur dengan
menggunakan rol baja dan mengambil 10 buah gigi untuk
pengukurannya.
Ditanyakan :
a. Diameter rol
b. Jarak luar rol untuk 10 gigi
c. Jarak luar rol posisi rol yang berlawanan
Penyelesaian:
a. Diameter rol terbaik adalah :
0
20cos
2
m
d rol =
2

 x 5 x 0.9397
d rol = 7.38 mm.
b. Untuk menjawab soal b lihat Gambar 5.17.
Dari gambar, diameter lingkaran pitch adalah :
D = mN = 2.5 x 31 = 77.5 mm
Sudut   

8.5
2 31
360
X
AC
AB
Cos
SudutABC
Sudut







90
9.2
2
8.5
AB = AC cos 2.9°
Padahal AC = diameter lingkaran pitch
Jadi, AB = 77.5 X 0.998719357 mm
AB = 77.40 mm.
Dengan demikian jarak luar rol baja adalah :
M = 77.40 + 3.69 mm = 81.09 mm
Sudut antara rol untuk 10 gigi adalah
=  

90
40
360
10x
Pada segitiga ABC,
AC
BC
Sin 

2
90
BC = AC sin 45°
AC adalah jari-jari lingkaran pitch. DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
201
Gambar 5.18.
Jadi,  mm10040x5x
2
1
N.m
2
1
AC 
Maka BC = 100 x sin 45
0
 = 100 x 0.7071067 mm = 70.71 mm.
Jarak antara pusat rol adalah = 2 x 70.71 mm = 141.42 mm
Sedangkan jarak luar rol yang dipasang untuk 10 gigi adalah 141.42 +
7.38 mm = 148.8 mm.
c. Jarak luar rol untuk posisi rol yang berlawanan adalah :
M =
 =  




 
 93969262.0
2
405
 = 207.38 mm
F. Pertanyaan-pertanyaan
1. Sebutkan beberapa macam roda gigi.
2. Apakah sebetulnya fungsi roda gigi dalam permesinan?
3. Apakah yang dimaksud dengan diametral pitch?
4. Bagaimana hubungan antara  addendum dan  deddendum dengan
modu?
5. Apakah yang dimaksud dengan gerak terlambat (back lash) dari roda
gigi dan apa pengaruhnya terhadap proses permesinan?
6. Apakah yang dimaksud dengan sudut tekan (pressure angle) dari
pasangan roda gigi dan berapakah besarnya standar sudut tekan
tersebut?
7. Bagaimanakah rumus menghitung jarak pusat antara pasangan roda
gigi?
8. Sebutkan beberapa elemen penting dari roda gigi yang perlu diukur.
9. Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan roda gigi secara
analisis dan pemeriksaan roda gigi menurut fungsinya.
10. Jelaskan secara ringkas pemeriksaan roda gigi yang menggunakan
Parkson Gear Tester.
11. Jelaskan secara ringkas pemeriksaan eksentrisitas roda gigi.
12. Tentukan rumus untuk mencari diameter rol baja yang terbaik yang
digunakan dalam pengukuran roda gigi.
13. Bagaimanakah rumus yang terjadi pada pengukuran roda gigi
dengan rol baja untuk roda gigi dengan jumlah gigi ganjil? Jelaskan
dengan gambar.
14. Bagaimana pula caranya mengukur roda gigi yang diameter
lingkaran pitchnya relatif besar ? Jelaskan dengan gambar.
15. Ada berapa cara pengukuran tebal gigi dari roda gigi ?
16. Bagaimanakah rumus yang diperoleh pada pengukuran tebal gigi
berdasarkan garis  pitch dan berdasarkan sudut tekan (constant
chord) ? DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI
Bab V – Pengukuran Roda Gigi
202
17. Apakah maksudnya pengukuran tebal gigi dengan sistem  Base
Tangent Method ?
18. Sebutkan alat ukur yang digunakan untuk mengukur tebal gigi yang
menggunakan sistem  Base Tangent Method dan jelaskan secara
ringkas cara kerjanya.
19. Jelaskan secara sederhana cara pemeriksaan jarak gigi (pitch) dari
roda gigi, dengan gambar.
20. Jelaskan dengan gambar prinsip dari pemeriksaan involute.
21. Jelasakan cara pemeriksaan back lash dari roda gigi.
22. Jelaskan dasar pengukuran roda gigi helix.
23. Analisislah hasil pengukuran roda gigi yang menggunakan rol baja
dengan ketentuan sebagai berikut : jumlah gigi = 60, modul = 5,
jumlah gigi yang diambil untuk diukur = 12 buah.

Alat Ukur dasar Teknik Pemesinan


ALAT-ALAT UKUR PERMESINAN


1. JANGKA SORONG 

    Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan display digital. Pada versi analog, umumnya tingkat ketelitian adalah 0.05mm untuk jangka sorang dibawah 30cm dan 0.01 untuk yang di atas 30cm.





    Kegunaan jangka sorong 

    ~ untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit;

    ~ untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur;

    ~ untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara "menancapkan/menusukkan" bagian pengukur. Bagian pengukur tidak terlihat pada gambar karena berada di sisi pemegang.

     penggunaan jangka sorong 


    1. Mengukur diameter luar
    Untuk mengukur diameter luar sebuah benda (misalnya kelereng) dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut
    • Geserlah rahang geser jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur dapat 
    • masuk diantara kedua rahang (antara rahang geser dan rahang tetap)
    • Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang.
    • Geserlah rahang geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang
    • Catatlah hasil pengukuran anda
    2. Mengukur diameter dalam
    Untuk mengukur diameter dalam sebuah benda (misalnya diameter dalam sebuah cincin) dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
    • Geserlah rahang geser jangka sorong sedikit kekanan.
    • Letakkan benda/cincin yang akan diukur sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong masuk ke dalam benda/cincin tersebut
    • Geserlah rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin yang diukur
    • Catatlah hasil pengukuran anda
    3. Mengukur kedalaman
    Untuk mengukur kedalaman sebuah benda/tabung dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
    • Letakkan tabung yang akan diukur dalam posisi berdiri tegak.
    • Putar jangka (posisi tegak) kemudian letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya.
    • Geserlah rahang geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong menyentuh dasar tabung.
    • Catatlah hasil pengukuran anda.
    Untuk membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
    • Bacalah skala utama yang berimpit atau skala terdekat tepat didepan titik nol skala nonis.
    • Bacalah skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama.
    • Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
      Hasil = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x skala terkecil jangka sorong) = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x 0,01 cm)
      Karena Dx = 0,005 cm (tiga desimal), maka hasil pembacaan pengukuran (xo) harus juga dinyatakan dalam 3 desimal. Tidak seperti mistar, pada jangka sorong yang memiliki skala nonius, Anda tidak pernah menaksir angka terakhir (desimal ke-3) sehingga anda cukup berikan nilai 0 untuk desimal ke-3. sehingga hasil pengukuran menggunakan jangka sorong dapat anda laporkan sebagai :
      Panjang L = xo ­+ Dx
      Misalnya L = (4,990 + 0,005) cm

      Jangka sorong biasanya digunakan untuk:

      1. mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit;
      2. Mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur;
      3. Mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara “menancapkan/menusukkan” bagian pengukur.
      4. Jangka sorong memiliki dua macam skala: skala utama dan nonius.
      Cara Pemakaian Jangka Sorong secara manual





      1.    Tempatkan besi pada bagian ujung alat jangka sorong.

      2.  Lakukan pergeseran skala geser hingga diameter besi sudah tepat  bersinggungan   dikedua sisi bagian ukur jangka sorong.

      3.    Kuncikan alat pengunci pada skala geser.

      4.   Untuk mendapatkan nilai diameter besi dapat dilihat sebagai beikut. Lihat angka di skala diam dimana tepat dikiri angka nol skala geser (titik A). Kemudian lihat angka diskala geser dimana tepat garis bersinggungan dengan garis diskala diam (titik B).

      5.    Maka nilai dimeter besi adalah A + (0.01 x B).



      2. MIKROMETER 



      Mikrometer adalah alat ukur yang dapat melihat dan mengukur benda dengan satuan ukur yang memiliki ketelitian 0.01 mm
      Satu mikrometer adalah secara luas digunakan alat di dalam teknik mesin electro untuk mengukur ketebalan secara tepat dari blok-blok, luar dan garis tengah dari kerendahan dan batang-batang slot. Mikrometer ini banyak dipakai dalam metrology, studi dari pengukuran,

      Mikrometer memiliki 3 jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut :
      GAMBARA JENIS-JENIS MIKROMETER
        Mikrometer Luar Mikrometer luar digunakan untuk ukuran memasang kawat, lapisan-lapisan, blok-blok dan batang-batang.
                 Mikrometer dalam Mikrometer dalam digunakan untuk mengukur garis tengah dari lubang suatu benda
      Mikrometer kedalaman Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari langkah-langkah dan slot-slot.
      Satu mikrometer ditetapkan dengan menggunakan satu mekanisme sekrup titik nada.

      Cara Membaca Mikrometer




      Gambar Mikrometer Sekrup
      Mikrometer Sekrup digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda. Mikrometer sekrup mempunyai 2 skala , yaitu:  skala utama dan skala nonius (skala putar). Lihatlah gambar dibawah ini!



      gambar 1
      Mikrometer sekrup memiliki ketelitian hingga 0,01 mm= 0,001 cm.
      Cara membacanya (ketebalannya):
      d= Skala Utama + Skala Nonius
      ket:
      skala nonius x 0,01 mm(karena memiliki ketelitian 0,01 mm)
      d= Ketebalan benda (mm)
      - Dalam membaca Skala utama lihatlah angka terakhir yang tidak ditutupi oleh pemutar. Misal angka terakhirnya 4 maka nilai skala utamanya 4 mm.
      - Dalam membaca Skala nonius lihat angka yang ditunjuk oleh skala utama(yang berada pada tengah-tengah). satu garisnya bernilai 0,01 mm. dimana x-nya angka yang ditunjukknya. misal angka yang ditunjuknya 35 maka nilainya 35×0,01 mm.
      contoh :
      contoh 1
      Lihat gambar dibawah ini!

      gambar 2 
      d= Skala utama+ Skala nonius
      Skala utama= 3,5  mm
      Skala nonius= 20 x 0,01=0,2 mm
      d= 3,5 mm + 0,2 mm = 3,7 mm
      contoh 2:
      Lihat gambar dibawah ini!

      Gambar 3 
      d= Skala utama + Skala Nonius
      Skala utama= 6,5 mm
      Skala nonius= 9 x 0,01 =0,09 mm
      d= 6,5 mm + 0,09 mm = 6,59 mm



      3. DIAL INDIKATOR 


      ,
      Dikenal sebagai alat pengukur dial dan indikator probe, adalah instrumen yangdigunakan untuk secara akurat mengukur jarak linier kecil, dan sering digunakan dalamproses industri dan mekanik. Mereka dinamakan demikian karena hasil pengukuranditampilkan dalam cara yang diperbesar dengan menggunakan tombol.

      Berbagai khusus dari indikator dial adalah indikator dial test (DTI) yang terutamadigunakan dalam setup mesin. The DTI langkah perpindahan pada sudut sebuah tuas ataupenyelam tegak lurus terhadap sumbu indikator. Indikator dial biasa langkah-langkahperpindahan linier sepanjang sumbu tersebut.

      Dial indikator dapat digunakan untuk memeriksa variasi toleransi selama prosespemeriksaan bagian mesin, mengukur defleksi balok atau cincin dalam kondisilaboratorium, serta situasi lain di mana ukuran kecil harus terdaftar atau ditunjukkan. Dialindikator biasanya mengukur berkisar antara 0,25 mm sampai 300 mm (0.015 in ke 12.0in), dengan gradasi 0,001 mm sampai 0,01 mm (metrik) atau 0,00005 ke 0,001 dalam(imperial)

       4. Mistar


      Pada mistar 30 cm terdapat dua gores/strip pendek berdekatan yang merupakan skala terkecil dengan jarak 1mm atau 0,1 cm.  Ketelitian mistar tersebut adalah setengah dari skala terkecilnya.
      Jadi ketelitian atau ketidakpastian mistar adalah (½ x 1 mm ) = 0,5 mm atau 0,05 cm

      Materi Dasar Teknik Pemesinan


      MATERI SMK JURUSAN TEKNIK PEMESINAN

      9 Juli 2013 pukul 1:14

      1. Mesin Bubut
      adalah suatu Mesin perkakas yang digunakan untuk memotong benda yang diputar. Bubut sendiri merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan. Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menukar roda gigi translasi yang menghubungkan poros spindel dengan poros ulir.
      Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. Roda gigi penukar dengan jumlah 127 mempunyai kekhususan karena digunakan untuk konversi dari ulir metrik ke ulir inci.
      2. Mesin gerinda
      adalah
       salah satu mesin perkakas yang digunakan untukmengasah/memotong benda kerja dengan tujuan tertentu. Prinsip kerja mesin gerindaadalah batu gerinda berputar bersentuhan dengan benda.kerja sehingga terjadi pengikisan, penajaman, pengasahan, atau pemotongan.

      Mesin gerinda tangan merupakan mesin yang berfungsi untuk menggerinda benda kerja. Awalnya mesin gerinda hanya ditujukan untuk benda kerja berupa logam yang keras seperti besi dan stainless steel. Menggerinda dapat bertujuan untuk mengasah benda kerja seperti pisau dan pahat, atau dapat juga bertujuan untuk membentuk benda kerja seperti merapikan hasil pemotongan, merapikan hasil las, membentuk lengkungan pada benda kerja yang bersudut, menyiapkan permukaan benda kerja untuk  dilas, dan lain-lain.
      Mesin Gerinda didesain untuk dapat menghasilkan kecepatan sekitar 11.000 – 15.000 rpm. Dengan kecepatan tersebut batu gerinda yang merupakan komposisi aluminium oksida dengan kekasaran serta kekerasan yang sesuai, dapat menggerus permukaan logam sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Dengan kecepatan tersebut juga, mesin gerinda juga dapat digunakan untuk memotong benda logam dengan menggunakan batu gerinda yang dikhususkan untuk memotong.
      Pada umumnya mesin gerinda tangan digunakan untuk menggerinda atau memotong logam, tetapi dengan menggunakan batu atau mata yang sesuai kita juga dapat menggunakan mesin gerinda pada benda kerja lain seperti kayu, beton, keramik, genteng, bata, batu alam, kaca, dan lain-lain. Tetapi sebelum menggunakan mesin gerinda tangan untuk benda kerja yang bukan logam, perlu juga dipastikan agar kita menggunakannya secara benar karena penggunaan mesin gerinda tangan untuk benda kerja bukan logam umumnya memiliki resiko yang lebih besar.
      Macam-macam batu gerinda.
      Fungsi dari batu gerinda berbeda-beda dalam pemakaiannya, berikut fungsi dari beberapa jenis batu gerinda :
      a. Flat wheels, untuk melakukan penggerindaan alat-alat potong seperti handtap,       countersink, mata bor, dan sebagainya.
      b.Cup wheels, untuk melakukan penggerindaan alat-alat potong seperti cutter, pahat bubut, dan sebagainya.
      c.Dish grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan profil pada cutter.
      d.Shaped grinding wheels, untuk memotong alat potong ataupun material yang sangat keras, seperti HSS, material yang sudah mengalami proses heat treatment.
      e.Cylindrical grinding wheels, untuk melakukan penggerindaan diameter dalam suatu jenis produk.
      Selain fungsi yang berbeda pada setiap jenis batu, juga mempunyai warna batu yang berbeda pula, dimana setiap warna yang dimiliki batu mempunyai karakteristik yang berbeda pula, di pasaran pada umumnya terdapat warna merah muda, putih dan hijau.

      • Bagian-bagian Mesin Gerinda
      Bagian badan mesin yang biasanya terbuat dari besi tuang yang memiliki sifat sebagai peredam getaran yang baik. Fungsinya adalah untuk menopang meja kerja dan menopang kepala rumah spindel.
                  Bagian poros spindel merupakan bagian yang kritis karena harus berputar dengan kecepatan tinggi juga dibebani gaya pemotongan pada batu gerindanya dalam berbagai arah. Bagian meja juga merupakan bagian yang dapat mempengaruhi hasil kerja proses gerinda karena diatas meja inilah benda kerja diletakkan melalui suatu ragum yang dikencangkan pada meja ini.

      Power Transmission
      Power Transmission gerinda dilindungi oleh pelindung tetap sebagai peredam getaran. Power Transmission gerinda berupa spindle.
      Point Of Operation
      Point Of Operation gerinda ini merupakan bagian mesin yang dirincang untuk mengasah atau mengikis benda kerja.
      Pelindung yang Dapat Diatur
      Pelindung ini adalah safety glass, di mana dirancang untuk melindung bagian atas badan pekerja seperti bagian wajah dari percikan api.
      Heavy wheel guard
      Heavy wheel guard bertujuan untuk melindung geindapada saat berputar dan merupakan pelindung tetap.
      Meja Benda
      Meja benda bertujuan untuk mengontrol benda pada saat penggerindaan dan
      mempengaruhi hasil dari penggerindaan.
      3. MESIN SCRAFT

       
      Mesin Skrap atau biasa juga dituliskan sebagai sekrap (Shaping Machine) merupakan jenis mesin perkakas yang memiliki gerak utama yakni bolak balok secara horizontal. Fungsi utama mesin ini adalah unttuk merubah bentuk serta ukuran benda kerja seperti apa yang diinginkan. Mesin Sekrap ini bisa melakukan berbagai fungsi seperti meratakan sebuah bidang datar, tegak maupun bidang miring. Mesin ini juga bisa membuat bidang yang bersudut atau bertingkat. Selain itu, Shaping Machine ini juga bisa membuat alur pasak, alur ekor burung bahkan alur V.
      Prinsip Kerja Shaping Machine/Mesin Sekrap
      Mesin yang juga bisa membentuk bidang-bidang tak beraturan ini memiliki mekanisme kerja yang cukup sederhana. Pada mesin skrap, terdapat gerakan memutar yang bersumber dari motor yang kemudian diubah menjadi gerak lurus ataukah gerak bolak-balik melalui blok geser serta lengan penggerak. Letak langkah dapat diatur dengan spindle posisi. Untuk mengatur panjang langkah, gunakan bantuan blok geser. Dalam menentukan ukuran utama mesin skrap ini, hal yang berpengaruh antara lain panjang langkah maksimum, jarak masimum tiap gerakan meja mesin ke arah mendatar serta jarak maksimal gerak meja ke arah vertikal atau naik-turun meja mesin.
      Dalam proses penyayatan menggunakan mesin skrap, ada beberapa faktor yang ikut berperan, yakni : derajat kehalusan, kapasitas mesin, kepadatan bahan yang dikerjakan, kekerasan bahan yang dibentuk. Jika semua faktor tersebut terpenuhi dengan baik, maka mesin sekrap akan bekerja secara optimal dalam memahat. Adapun bentuk pahatan yang bisa dilakukan oleh mesin sekrap antara lain :
      • Pahat arah lurus kiri
      • Pahat arah lurus kanan
      • Pahat bentuk bengkok ke kiri
      • Pahat bentuk bengkok ke kanan
      • pahat leher angsa
      • Pahat bentuk ujung bulat
      • pahat bentuk segi empat
      • dll.
      Bagian-bagian Mesin Sekrap
      Dalam menjalankan fungsinya secara baik, mesin sekrap dilengkapi dengan berbagai komponen dengan fungsi masing-masing. Bagian-bagian tersebut secara acak adalah penjepit, pelat pemegang pahat, penjepit pahat atau tool post, meja, rangka, lengan, tuas penjalan, tuas pengatur kecepatan, tombol on-off, pengatur jarak langkah, ragum, eretan meja arah tegak, eretan meja arah, motor, eksentrik penggerak, support atau eretan tegak dan lain-lain.
      Jenis Mesin Sekrap
      Ada berbagai varian dari shaping machine atau mesin skrap ini. Jenis tersebut, menurut cara kerjanya, antara lain adalah :
      • Mesin sekrap biasa. Pada mesin ini pahat sekrap bergerak secara maju dan mundur menyayat benda target kera yang ada pada meja mesin.
      • Planer, yakni mesin yang memahat diam (menyayat) benda kerja yang ada pada meja mesin. Gerakan yang dibangung adalah bolak-balik.
      • Sloting, yakni gerakan pahat secara vertical dengan cara naik dan turun. Mesin ini banyak digunakan untuk membuat alur pasak roda gigi serta pully.
      Varian ini kemudian dipersempit menjadi dua jenis jika dilihat dari tenaga penggeraknya, yakni mesin sekrap engkol serta mesin sekrap hidrolik. Mesin sekrap engkol memiliki gerak berputar yang diubah menjadi gerak bolak-balik dengan menggunakan engkol. Sedangkan mesin sekrap hidrolik menggunakan gerak bolak-balik yang bersumber dari tenaga hidrolik yang ada.

      4. MESIN BOR


      Mesin Bor adalah mesin yang digunakan untuk membuat lubang, alur, dan bisa untuk peluasan dan penghalusan suatu lubang dengan sangat efisien. Perlengkapan Mesin Bor diantaranya adalah :
      1. Kunci Bor
      2. Pengukur Diameter
      3. Pelumasan
      4. Mata Bor
      Terdapat Mesin Bor yang sering digunakan diantaranya adalah :
      1. Mesin Bor Meja
      2. Mesin Bor Tiang
      3. Mesin Bor Tegak
      4. Mesin Bor Radial, dll
      Kontruksi Mesin Bor
      Jenis Mata Bor dalam proses pengeboran adalah sebagai berikut :
      1. Bor Center
      2. Bor Spiral
      3. Bor Ujung Rata
      4. Bor Alur
      5. Bor Peluas Standar
      6. Bor Peluas Ujung
      Pada Pengaturan kecepatan harus disesuaikan dengan bentuk, ukuran dan sifat benda kerja yang akan di bor. Hal ini harus diperhitungkan secara tepat agar dalam penggunaan Mesin Bor dapat menghasilkan hasil kerja yangoptimal dan efisien.
      Spesifikasi Mesin Bor
      Pengaturan kecepatan Mesin Bor dapat dituliskan sebagai berikut :
      RPM = Cutting Speed * 4/ Driil Diameter
      Keterangan : Rpm adalah putaran Mata Bor per menit, Cutting Speed adalahkecepatan poting (mm/menit), Driil Diameter adalah diameter lubang.
      Sebelum Mesin Bor digunakan pada benda kerja, pekerja harus memperhatikan kelengkapan mesin bor, pelumasan, jenis barang yang akan di bor, ukuran diameter bor, arah putaran dan kecepatan Mesin Bor dan pencegahan kecelakaan.

      5. MESIN FRAIS

      mesin frais adalah mesin tools yang digunakan secara akurat untuk menghasilkan satu atau lebih pengerjaan permukaan benda dengan menggunakan satu atau lebih alat potong. Benda kerja dipegang dengan aman pada meja benda kerja dari mesin atau dalam sebuah alat pemegang khusus yang dijepit atau dipasang pada meja mesin. Selanjutnya benda kerja dikontakkan dengan pemotong yang bergerak maju mundur. Mesin frais merupakan mesin potong yang dapat digunakan untuk berbagai macam operasi seperti pengoperasian benda datar dan permukaan yang memiliki bentuk yang tidak beraturan, roda gigi dan kepala baut, boring, reaming. Kemampuan untuk melakukan berbagai macam pekerjaan membuat mesin frais merupakan salah satu mesin yang sangat penting dalam bengkel kerja. (Stefford, 1986)

      Memfrais adalah mengerjakan logam dengan mesin yang mempergunakan pemotong berputar yang mempunyai sejumlah mata pemotong. Alat ini kenal sebagai pisau frais. Mesin Frais ditemukan oleh Eli Whitney sekitar tahun 1818. Frais ini melakukan produksi suku cadang duplikat yang pertama dengan pengendalikan secara mekanis arah dan gerakan potong dari perkakas mata potong jamak yang berputar. Mesin frais melepaskan logam ketika benda kerja dihantarkan terhadap suatu pemotong berputar, kecuali untuk putaran, pemotng berbentuk bulat tidak mempunyai gerakan lain. Pemotong frais memiliki satu deretan mata potong pada kelilingnya yang masing-masing berlaku sebagai pemotong tersendiri pada daur putaran. Benda kerja dipegang pada meja yang mengendalikan hantarannya terhadap pemotong. Dalam mesin pada umumnya terdapat tiga kemungkinan gerakan meja longitudinal, menyilang dan vertikal, tetapi pada beberapa meja juga dimiliki gerakan putar.

      Mesin frais adalah yang paling mampu melakukan banyak tugas dari segala mesin perkakas. Permukaan yang datar maupun berlekuk dapat dimesin dengan penyelesaian dan ketelitian istimewa. Pemotong sudut, celah, roda gigi dan ceruk dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pemotong. Pahat frais, pelumas
      lubang dan bor dapat dipegang dalam soket arbor dengan melepaskan pemotong dan orbor. Karena semua gerakan meja mempunyai penyetelan mikrometer, maka lubang dan pemotongan yang lain dapat diberi jarak secara tepat. Operasi pada umumnya yang dilakukan oleh sekrap, kempa gurdi, mesin pemotong roda gigi dan mesin pelumas lubang dapat dilakuan pada mesin frais. Mesin ini membuat penyelesaian dan lubang yang lebih baik sampai batas ketelitian dengan jauh lebih mudah dari pada sekrap. Pemotongan berat dapat diambil tanpa banyak merugikan pada penyelesaian atau ketepatannya. Pemotonganya efesien pada gerakannya dan dapat dipakai untuk waktu yang lama sampai perlu diasah kembali. Dalam kasus pada umumnya, benda kerja diselesaikan dalam satu lantaran dari meja. Keuntungan ini ditambah dengan ketersediaan dari pemotogan yang sangat beraneka ragam membuat mesin frais sangat penting dalam bengkel dan ruang perkakas. (B.H. Amstead, 1981)
      - See more at: http://www.teknikmesin.net/2012/02/mesin-frais.html#sthash.H83cFBPZ.dpuf

      6.CNC

      Computer Numerical Control / CNC (berarti "komputer kontrol numerik") merupakan sistem otomatisasi Mesin perkakas yang dioperasikan oleh perintah yang diprogram secaraabstark dan disimpan dimedia penyimpanan, hal ini berlawanan dengan kebiasaan sebelumnya dimana mesin perkakas biasanya dikontrol dengan putaran tangan atau otomatisasi sederhana menggunakan cam. Kata NC sendiri adalah singkatan dalam Bahasa inggris dari kata Numerical Control yang artinya Kontrol Numerik. Mesin NC pertama diciptakan pertama kali pada tahun 40-an dan 50-an, dengan memodifikasi Mesin perkakas biasa. Dalam hal ini Mesin perkakas biasa ditambahkan dengan motor yang akan menggerakan pengontrol mengikuti titik-titik yang dimasukan kedalam sistem oleh perekam kertas. Mesin perpaduan antara servo motor dan mekanis ini segera digantikan dengan sistem analog dan kemudian komputer digital, menciptakan Mesin perkakas modern yang disebut Mesin CNC (computer numerical control) yang dikemudian hari telah merevolusi proses desain. Saat ini mesin CNC mempunyai hubungan yang sangat erat dengan program CAD. Mesin-mesin CNC dibangun untuk menjawab tantangan di dunia manufaktur modern. Dengan mesin CNC, ketelitian suatu produk dapat dijamin hingga 1/100 mm lebih, pengerjaan produk masal dengan hasil yang sama persis dan waktu permesinan yang cepat.
      NC/CNC terdiri dari tiga bagian utama :
      1. Program
      2. Control Unit/Processor
      3. Motor listrik servo untuk menggerakan kontrol pahat
      4. Motor listrik untuk menggerakan/memutar pahat
      5. Pahat
      6. Dudukan dan pemegang

      prinsip kerja

      Prinsip kerja NC/CNC secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut :
      1. Programer membuat program CNC sesuai produk yang akan dibuat dengan cara pengetikan langsung pada mesin CNC maupun dibuat pada komputer dengan software pemrogaman CNC.
      2. Program CNC tersebut, lebih dikenal sebagai G-Code, seterusnya dikirim dan dieksekusi oleh prosesor pada mesin CNC menghasilkan pengaturan motor servo pada mesin untuk menggerakan perkakas yang bergerak melakukan proses permesinan hingga menghasilkan produk sesuai program.
      Demikianlah catatan ini saya dedikasikan untuk teman teman saya yamg mengambil jurusan mesin...